Cerita · Lain

Radio Tua

Jpeg
Radio Tua

Tulisan “Telesonic” masih terlihat jelas di bagian depan. Bentuknya yang kusam menunjukkan jika benda ini sudah berumur. Ya, umurnya lebih tua dari umur saya. Saya menemukannnya di tumpukan barang yang akan dibuang. Dibuang karena sudah tidak bisa digunakan lagi. Adakah cerita yang tertinggal dari benda tua ini?

***

Bagi mereka yang hidup di awal tahun 2000an, mungkin mereka tidak akan pernah mendengar kata “Telesonic”, merek dagang salah satu alat elektronik. Saya pun mungkin tidak akan pernah mengetahui jika ada merek dagang seperti itu jika bukan karena radio tua yang dimiliki oleh ayah saya.Radio tua yang akan dibuang karena rusak. Radio ini dibeli sekitar awal tahun 1980. Katanya, waktu itu kebanyakan orang hanya memiliki radio hanya orang kaya yang punya telivisi itu pun televisi hitam putih.

Radio tua ini pernah sangat berguna, setidaknya di waktu-waktu tertentu. Dulu, lewat radio tua ini saya bisa mendengarkan pertandingan PSM Makassar. Saya adalah salah satu fans PSM Makassar. Jelas karena “Juku Eja’, julukan bagi PSM Makassar, adalah tim kebanggan warga Sul-Sel dan saya lahir di Pangkep, kota yang terletak 60 kilometer sebelah utara Makassar. Lewat radio tua “Telesonic” saya selalu berusaha tak melewatkan setiap pertandingan PSM Makassar di masa jayanya dulu.

Mendengarkan pertandingan sepak bola lewat radio punya sensasi tersendiri. Kenapa? Karena kita hanya mendengarkan dan tidak melihat, sehingga para pendengar dibawa untuk berkhayal, membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Berimajinasi menjadi hal yang mutlak dilakukan ketika mendengarkan pertandingan sepak bola lewat radio.

Sensasi berikutnya adalah reporternya. Reporternya sungguh luar biasa, sangat heboh. Mulutnya sangat lincah berkomentar mendeskripsikan apa yang terjadi di lapangan.

“Bola di kaki Syamsul, berikan ia kepada Ponaryo. Berputar-putar ia di sana mencari kawan yang dituju. Bola diberikan kepada Irsyad tapi terjatuh dia saudara-saudara. Gagal lagi serangan PSM”

” PSM membangun serangan. Umpan jauh yang dituju adalah Gonzalez. Tapi sayang seribu sayang, bola lebih dekat kepada penjaga gawan Persipura. Gagal lagi serangan PSM”

Goooolllll

Itu adalah sedikit kalimat yang sering di keluarkan oleh reporter pertandingan. Mungkin  ketika anda membaca tidak ada hal yang luar biasa, tapi yakinlah ketika anda mendengarkan secara langsung anda akan dibuat penasaran, degdegan, gemes bahkan tertawa.  Dan bagian inilah yang selalu saya rindukan. Dan percayalah bahwa reporter pertandingan akan selalu berpihak kepada PSM. Meskipun dia berusaha menutupi, tetapi akan terasa dari komentar-komentar yang terlontar dari mulutnya.

Radio tua “Telesonic” ini menjadi saksi bagaimana saya rela tidak belajar malam hanya untuk mendengarkan pertandingan PSM Makassar meskipun besoknya saya ada ujian. Radio tua ini sudah akan dibuang, pun sudah ada radio baru penggantinya.

Sekarang, saya tidak begitu aktif mengikuti perkembangan PSM Makassar. Saya pun sudah tidak pernah mendengarkan pertandingannya lewat radio. Saya selalu berdoa agar PSM Makassar kembali berjaya seperti dulu. Menjadi tim yang disegani dan mampu meraih banyak prestasi dan juara.

Ewako… PSM, Ewako … PSM.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s